Sebagai manusia berakidah, tentunya kita tidak
bisa melewatkan begitu saja bila terjadi sebuah bencana. Ada banyak pesan yang
dititipkan fenomena alam jika terlihat tidak bersahabat. Karena ternyata alam
diciptakan dengan sistem sangat sempurna. Telah sekian milyar tahun semua
berjalan dengan dinamis. Hukum sangat dihormati, hingga kenyamanan dan
kedamaian pun tercipta. Bila terlihat sebuah perubahan, pasti karena pihak
lain. Tangan yang dengan sadar atau tidak, melanggar hukum lalu merusak tatanan
serasi alam. (Ar-Rum: 41).
Bencana sudah banyak terjadi. Bermunculan bersama
alur sejarah kejahatan manusia yang panjang. Semuanya sama, walaupun berlainan
dimensi. Yang membedakan hanyalah bagaimana masing-masing bersikap. Apakah kita
merasa ditegur, atau menganggapnya biasa-biasa saja.
Al-Qur’an sarat dengan sejarah kaum-kaum yang
terderai bencana. Bahkan lantaran bandel, banyak yang ditutup sejarahnya.
Generasi mereka tidak bisa berantai lagi. Yang tertinggal hanyalah nama, yang
disebut-sebut saat orang belajar pengalaman pahit.
Pada abad 19 SM, Mesir kuno diperintah oleh
Hexos. Seorang raja dari kaum penggembala Asia yang berhasil merebut kekuasaan
saat dinasti ke-13 terjangkiti krisis politik. Menurut sejarawan, di masa
itulah kisah nabi Yusus as, peraih semua nominasi keindahan, bersetting.
Mesir didapati nabi Yusuf muda sangat berbeda
dengan negeri asalnya, Palestina. Penyembahan dewa-dewa (Yusuf: 40). Nepotisme
yang menjadi ruh politik dan hukum, hingga elit politik seenaknya menghukum
tanpa pengadilan (Yusuf: 32, 36). Moral masyarakat yang jungkir-balik tak
beraturan; hingga seorang isteri tanpa rasa malu merayu bahkan memaksa budaknya
(Yusuf: 23); seorang suami tak lagi punya cemburu (Yusuf: 29), bahkan membuka
kesempatan lebar-lebar isterinya untuk beraffair dengan membiarkan mereka tetap
seatap; isteri-isteri kalangan elit yang bersatu padu dalam makar mesum (Yusuf:
33, 50). Bila elit politik demikian, kalangan jelata pun takkan jauh berbeda.
Lewat mimpi, Allah SWT memberitakan datangnya
bencana. Paceklik akan melanda negeri subur ini selama 7 tahun. Raja cepat
bertindak. Entah karena tanggung jawab, atau karena prestise super powernya
terancam ambruk. Yusuf as. pun datang sebagai tokoh reformasi dengan solusi
yang tepat, pada timing yang tepat. Beliau mengusung perbaikan pada sektor
pertanian dan teknologi pasca panen (Yusuf: 47), manajemen keuangan negara
(Yusuf: 55), dan politik ekonomi luar negeri (Yusuf: 49). Semua dilakukan dalam
rangka dakwah menuju negara yang bertauhid. Karena tak mungkin beliau menyiakan
peluang emas ini, sedangkan di dalam penjara saja beliau aktif berdakwah
(Yusuf: 37-40).
Ternyata raja masih mau berlogika; menyambut
usulan-usulan itu (Yusuf: 54). Tapi menurut Yusuf as., solusi baru manjur
setelah dijalankan reformasi. Terutama dalam bidang norma dan hukum. Yusuf as.,
yang korban nepotisme hukum, tak mau keluar penjara sebelum namanya
direhabilitasi (Yusuf: 50). Diadakanlah pengadilan yang melibatkan semua pihak
terkait tanpa kecuali (Yusuf: 51). Perlakuan hukum yang tidak membedakan
golongan dan strata sosial ini nantinya akan membuka kunci reformasi di bidang
yang lain. Keberhakan atas jabatan pun hanya didasarkan pada kapabelitas
pejabat (Yusuf: 55, 56), sehingga terwujud keadilan dan profesionalisme.
Beruntunglah negeri ini; selamat dari ancaman
bencana, bahkan menjadi negara donor dan pensuplai pangan masyarakat dunia.
Walau kondisi keagamaan belum tereformasi dengan sempurna (Yusuf: 76), dan raja
masih belum bertauhid. Ternyata bencana bisa disulap menjadi kenikmatan.
Syaratnya, ada reformasi pada sektor-sektor vital. Minimal dalam membebaskan
negara dari gurita KKN. Kondisi negara yang hormat reformasi sangat kondusif
untuk perbaikan keagamaan umat.
Sekarang, coba kita bandingkan dengan kebijakan
politik lain. Masih di Mesir kuno. Pada dinasti ke-19, Ramses II, yang
ditengarai sejarawan adalah Fir’aun penentang nabi Musa as. pada abad ke-13 SM
ini, memakai politik otoriter. Demi mencerabut ideologi lawan dan melanggengkan
status quo, dia dengan tega mengusir dan membunuh, bahkan kepada bayi-bayi
merah yang masih dalam buaian.
Penggemar berat sihir ini punya hukum sendiri
yang dipaksakan kepada rakyat. Diapun mengklaim diri sebagai tuhan (An-Nazi’at:
24). Bukan tuhan yang dipuja dan disembah. Karena dalam sejarah, orang Mesir
tidak pernah menyembah raja (Fi Dzilal Al-Qur’an: 1353). Juga karena ternyata
Ramses II pun menyembah para dewa (Al-A’raf: 127). Karena menaati aturan raja
yang berseberangan dengan Islam adalah sebuah penyembahan (lihat kisah Adiy bin
Hatim, riwayat Tirmizi).
Suatu saat, kesombongannya terusik. Mesir dilanda
kemarau panjang yang melaparkan seluruh negeri (Al-A’raf: 130). Namun penguasa
Nil ini masih saja menyombongkan kekuasaannya. Kadang bencana yang tak
tertanggulangi itu memaksanya turun bargaining, dan harus berdialog dengan Musa
as. untuk mencari solusi (Al-A’raf: 134).
Dalam setiap dialog, Fir’aun berkomitmen untuk
beriman kepada Allah dan tidak berbuat kezaliman. Setelah bencana dihentikan,
dia pun ingkar janji. Akhirnya dikirimlah bencana secara beruntun. Datanglah
taufan, belalang, kutu, katak, dan darah (Al-A’raf: 133). Fir’aun tak berubah;
kezaliman terus saja terjadi. Bahkan nabi Musa as. yang selama ini turut
meringankan bencana pun dikejar-kejar, hingga akhirnya Fir’aun dan tentaranya
dibinasakan di laut Merah (Yunus: 90). Yang tersisa hanyalah mumi tubuhnya yang
sarat pelajaran berharga (Yunus: 92).
Itulah dua sikap dengan dua konsekwensi. Bahwa
bencana harus diyakini akibat sebuah kesalahan. Logikanya, kalau Islam
menganjurkan istighfar saat tertusuk duri, apakah sebuah negeri hancur bukan
karena dosa? Dalam hal ini, introspeksi pun harus berskala nasional. Yang
paling bertanggung jawab adalah para pembuat keputusan. Mereka harus mengaktifkan
hati agar pesan bencana dapat diterima; membuka telinga agar suara pelopor
kebaikan bisa didengar. Kemudian bagi para pecinta keadilan dan kesejahteraan
agar lebih concern terhadap kondisi umat; jadilah Yusuf dan Musa negeri ini.
Jangan sampai negeri kita hilang digilas sejarah. Karena sejarah pasti akan
mengulang kembali peristiwa-peristiwanya. Wallahu A’lam. (msa/dakwatuna)
No comments :
Post a Comment